Dari Coretan Masa Kecil Menuju Kanvas Kehidupan: Kisah Susmiadi
Klik untuk perbesar
Tentang Seniman

Dari Coretan Masa Kecil Menuju Kanvas Kehidupan: Kisah Susmiadi

Ada satu gambar yang selalu Susmiadi kenang — selembar kertas lusuh bergoresan pensil, menggambarkan sawah di belakang rumah masa kecilnya. Bukan karya yang sempurna. Tapi di sanalah semuanya bermula.

Benih yang Tumbuh Diam-diam

Ketertarikan Susmiadi pada dunia seni rupa tumbuh jauh sebelum ia mengenal kata "melukis" secara formal. Sejak kecil, matanya selalu tertangkap pada detail yang luput dari perhatian orang lain — refleksi cahaya di genangan air hujan, gradasi warna langit menjelang senja, tekstur kulit kayu yang retak dimakan usia.

Kebiasaan mengamati inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam setiap karya yang ia ciptakan. Bukan teknik semata yang membuat lukisan Susmiadi hidup, melainkan kepekaan rasa yang diasah selama berpuluh-puluh tahun.

Dua Dunia yang Berjalan Beriringan

Sebagian orang mungkin bertanya-tanya: bagaimana seorang Aparatur Sipil Negara yang meniti karier dari Dinas PU Pengairan hingga menjabat sebagai Camat Kencong bisa menghasilkan karya seni yang begitu dalam dan penuh nuansa?

Jawabannya sederhana. Bagi Susmiadi, pengabdian kepada masyarakat dan dedikasi pada seni bukan dua jalan yang berlawanan arah. Keduanya bersumber dari hal yang sama: kecintaan yang tulus pada keindahan hidup dan kehidupan manusia di sekitarnya.

Pengalaman bertahun-tahun berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai lapisan justru memperkaya perspektifnya sebagai seniman. Setiap wajah yang ditemui, setiap kisah yang didengar, mengendap menjadi inspirasi yang kemudian mengalir melalui kuas di atas kanvas.

Ketika Karya Bicara Melampaui Batas

Hari ini, lukisan-lukisan Susmiadi tidak hanya menghiasi rumah-rumah di Indonesia. Beberapa karyanya telah berpindah tangan kepada kolektor internasional yang menghargai kedalaman ekspresi dan keotentikan yang terpancar dari setiap goresan.

Namun bagi Susmiadi sendiri, ukuran keberhasilan terbesar bukan pada seberapa jauh karya itu bepergian, melainkan pada seberapa dalam ia menyentuh hati orang yang melihatnya.

"Saya melukis bukan untuk dipamerkan, tapi untuk berbagi — berbagi tentang keindahan yang saya lihat, tentang rasa yang saya rasakan, tentang kehidupan yang saya syukuri."

Dan itulah yang membuat setiap karya Susmiadi bukan sekadar lukisan. Ia adalah percakapan diam antara seniman dan penikmatnya — percakapan yang tidak memerlukan kata-kata untuk dipahami.