View Detail
Tangan kanannya terangkat ke dagu — bukan karena ragu, melainkan karena beliau sedang berpikir. Peci hitam, kemeja putih lengan panjang, mikrofon di tangan kiri, dan sorot mata yang tenang namun menembus jauh ke dalam. Inilah Gus Baha dalam momen paling ikoniknya: sedang mengajar, sedang hadir sepenuhnya, sedang menjadi beliau yang paling autentik.
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim adalah ulama tafsir Al-Quran yang mengubah cara jutaan orang Indonesia memahami agama — bukan dengan kekerasan kata, melainkan dengan kejernihan pikiran dan ketulusan yang memancar dari setiap majelis beliau. Potret cat minyak ini dieksekusi dengan realisme yang menghormati beliau: tidak berlebihan, tidak berkurang. Bagi santri dan pecinta ilmu, memiliki karya ini adalah cara paling indah memuliakan guru.
Ilmu yang sesungguhnya tidak membuat orang merasa kecil — ia membuat orang merasa ingin tahu lebih banyak.