View Detail
Di balik wajah yang tenang dalam potret ini tersimpan perjalanan panjang seorang ulama yang mengabdikan hidupnya untuk menjaga agar Islam dan Indonesia berjalan beriringan. KH. Achmad Shiddiq — putra Jember, santri KH. Hasyim Asy'ari, Rais Aam PBNU 1984–1991 — adalah arsitek intelektual di balik konsep Khittah NU 1926 yang menjadi pijakan NU hingga hari ini.
Beliau dikenal alim, tawadhu, dan tidak pernah menggunakan ilmunya untuk mencari nama. Potret cat minyak ini menangkap beliau dalam kesederhanaan yang justru memancarkan keagungan — surban putih, pakaian yang bersih, tatapan yang dalam. Memiliki karya ini adalah cara merawat ingatan bahwa ulama seperti beliau adalah warisan yang tidak boleh dilupakan.
Kebesaran seorang ulama tidak diukur dari seberapa keras beliau berbicara — melainkan dari seberapa dalam kata-kata beliau mengendap di hati umat.